Get Adobe Flash player

Menu

Fanspage

Visitors

dreamweaver stats

Masyhudin 1, Surjani Wonorahardjo, Srini M. Iskandar 2

 

1 SMA Negeri 1 Kota Bima. Jl. Soekarno Hatta No. 29. Telp (0374) 43197 Kota Bima NTB Indonesia. E-mail: mone349@gmail.com; nauril_507@yahoo.com.

2 Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Jl. Semarang No. 5 Telp. (0341) 551312 Malang Jawa Timur Indonesia. E-mail: S_wonorahardjo@yahoo.com; srini.iskandar@yahoo.com.

 

 

ABSTRAK

 

Kata kunci: blended learning, motivasi belajar, hasil belajar, laju reaksi.

 

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan dengan motivasi dan hasil belajar penerapan model pembelajaran konvensional. Model blended learning dalam penelitian ini berupa penggabungan antara metode pembelajaran tatap muka (real class) dengan metode pembelajaran online (virtual class), sedangkan model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang keseluruhan pembelajarannya dilaksanakan secara tatap muka pada waktu dan ruang yang sama (real class). Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dengan desain pretest-posttest. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN I Kota Bima. Data penelitian diambil dengan menggunakan: (1) instrumen tes berbentuk objektif tes sejumlah 25 item; (2) instrumen motivasi belajar berbentuk angket model ARCS sejumlah 36 item. Data motivasi dan hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan teknik statistik uji-t satu pihak dan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model blended learning lebih efektif dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima dalam mempelajari materi laju reaksi, berupa: 1) Rata-rata skor angket motivasi siswa dengan penerapan blended learning adalah 143,53 (persentase peningkatan sebesar 14,8), lebih tinggi dari rata-rata skor angket motivasi dengan pembelajaran konvensional yaitu 135,12 (persentase peningkatan 10,1); 2) Rata-rata skor posttest siswa dengan blended learning adalah 68,71 (persentase peningkatan sebesar 45,4), lebih tinggi daripada rata-rata posttest siswa dengan pembelajaran konvensional yaitu 56,59 (persentase peningkatan sebesar 33,2).

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Beberapa faktor penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap materi laju reaksi adalah:

  1. Adanya konsep-konsep yang bersifat abstrak (Farida, 2010). Konsep-konsep tersebut adalah teori tumbukan, keadaan transisi, faktor yang mempengaruhi laju reaksi secara molekuler (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009).
  2. Rendahnya motivasi belajar siswa (Febrianti , 2010).
  3. Siswa tidak memiliki keberanian bertanya kepada guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung (cenderung pasif), meskipun mereka belum memahami materi yang dipelajari (Sari & Purtadi, 2010). Temuan ini menjadi salah satu kelemahan pembelajaran tatap muka, walaupun pembelajaran tatap muka tetap menjadi model utama pendidikan (Dasna & Sutrisno, 2005).

Untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas, Herron (1996:135) menyarankan penggunaan animasi atau simulasi komputer dalam pembelajaran konsep yang bersifat abstrak. Hal ini disebabkan animasi komputer dapat mengkonkritkan konsep yang bersifat abstrak (Sanger & Greenbowe, 2000). Lebih lanjut Sanger & Greenbowe (2000) menyatakan bahwa aplikasi animasi komputer sangat potensial untuk digunakan sebagai strategi yang efektif dalam pembelajaran, Indikasinya adalah adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang diperlihatkan animasi dengan yang tidak melihat animasi pada pembelajaran materi larutan elektrolit, disamping itu animasi juga dapat menarik perhatian siswa sehingga meningkatkan motivasi belajar mereka (Feryandi, 2004), meningkatkan efisiensi pembelajaran (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009). Dengan demikian penggunaan gambar dan animasi komputer diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam mempelajari konsep abstrak dalam materi laju reaksi. Animasi dan gambar yang digunakan pada pembelajaran konsep abstrak ini bisa diupload ke internet untuk digunakan pada pembelajaran online.

Selain bersifat abstrak, konsep dalam materi laju reaksi bersifat prinsip (pengertian/hukum laju reaksi, energi aktivasi, persamaan reaksi dan orde reaksi) serta bersifat proses (penentuan laju reaksi, penentuan persamaan laju reaksi, faktor yang mempengaruhi laju reaksi) (Iriany et al, 2009; Suyanti, 2010). Konsep yang berdasarkan prinsip pada umumnya merupakan konsep yang menyangkut definisi (Suyanti, 2010). Konsep-konsep ini bersifat hafalan dan menuntut penguasaan makna oleh siswa secara verbalistik (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009). Herron (1996) menyarankan bahwa pembelajaran untuk konsep yang berdasarkan prinsip bisa dilakukan dengan menghadirkan contoh dan non contoh. Karena hanya menuntut penguasaan makna secara verbalistik, maka pembelajaran konsep ini bisa dilakukan dengan metode pembelajaran online dengan menghadirkan contoh dan non contoh dari konsep tersebut melalui gambar, grafik atau animasi. Metode pembelajaran online dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa yang terindikasi dengan meningkatnya partisipasi siswa (Cox, Carr & Hall, 2004). Sementara Patron & Lopez (2011) menemukan terjadinya peningkatan motivasi yang signifikan (? = 0,01) dengan penerapan pembelajaran online terhadap 212 siswa. Hal yang sama juga diperoleh Lim (2004) dalam Bannier (2009), bahwa terjadi peningkatan motivasi melalui pembelajaran online yang berupa relevansi, pengaturan diri, feedback dan perhatian terhadap pembelajaran. Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran online dalam pembelajaran materi laju reaksi dapat dilakukan dengan harapan mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam bertanya atau berinteraksi dalam pembelajaran sehingga meningkatkan motivasi dan hasil belajar.

Untuk konsep yang bersifat proses, Herron (1996:127-135) menyarankan pembelajaran konsep ini sebaiknya dilakukan melalui eksperimen dengan membandingkan proses tersebut dengan proses yang lain. Hal ini dikarenakan pengalaman yang diperoleh dari eksperimen merupakan pengalaman yang tak tergantikan dalam pembelajaran IPA (Herron, 1996:114). Lebih lanjut (Herron, 1996) menyatakan terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang melakukan eksperimen dengan yang tidak melakukan eksperimen. Disamping itu pembelajaran konsep yang bersifat proses menuntut adanya penguasaan keterampilan proses tertentu (Suyanti, 2010). Penilaian terhadap penguasaan keterampilan melakukan percobaan dan keterampilan proses matematis tidak bisa dilakukan secara online, karena membutuhkan keterlibatan tindakan siswa yang bisa diamati (Angelo & Cross dalam Beebe, Vonderwell & Boboc, 2010), dengan demikian menuntut adanya pembelajaran tatap muka baik melalui eksperimen untuk faktor yang mempengaruhi laju reaksi, maupun melalui latihan soal untuk konsep penentuan persamaan laju reaksi dan orde reaksi karena menuntut penguasaan proses secara matematis (Sunyono, 2009).

Berdasarkan sifat konsep dalam materi laju reaksi, maka pembelajaran materi laju reaksi dapat dilakukan dengan pembelajaran online yang digabungkan dengan pembelajaran tatap muka. Model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online ini disebut sebagai blended learning (Little John & Pegler, 2007; Harriman, 2004). Blended learning akan semakin bermakna jika diikuti dengan pemanfaatan teknologi yang maksimal dari pendidik, jadi pembelajaran tidak sekedar ­online saja tetapi juga ada media-media di dalamnya yang juga memanfaatkan teknologi yang ada, antara lain penggunaan gambar dan animasi yang tepat (Harriman, 2004).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan blended learning  dapat meningkatkan kepuasan dan prestasi siswa dalam mempelajari kimia anorganik (Williams, Bland & Christie, 2007), membantu siswa untuk lebih aktif dalam memperoleh pengetahuan secara mandiri yang berakibat pada peningkatan indeks prestasi siswa (Wong, 2007) dan siswa mendapatkan keuntungan berupa otonomi diri dan pengaturan diri melalui penerapan blended learning (Shih, 2010) Berdasarkan analisa materi dan hasil penelitian-penelitian tersebut, maka penerapan blended learning pada pembelajaran materi laju reaksi dapat dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dengan desain pretest-posttest. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN I Kota Bima, sedangkan sampel penelitian adalah kelas XI IPA 6 dan XI IPA 7 yang dipilih dengan pertimbangan (purposive sampling), memiliki skor rata-rata kimia yang hampir sama pada semester sebelumnya dan sebagain besar siswa mempunyai laptop/PC. Data penelitian diambil dengan menggunakan: (1) instrumen tes berbentuk objektif tes sejumlah 25 item; (2) instrumen motivasi belajar berbentuk angket model ARCS sejumlah 36 item yang diadopsi dari Mukhan (2010). Data motivasi dan hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan teknik statistik uji-t satu pihak serta teknik persentase.

Untuk keperluan pembelajaran online, digunakan Software Moodle versi 1.9 dengan web server apache versi 5.2.x. Kapasitas server yang dipakai sebesar 500 MB serta bandwidth 50 GB. Spesifikasi ini diperlukan untuk menghindari server down. Disamping itu, user memiliki koneksi internet dengan kecepatan minimal 40 Kbps setara 5 KBps.

 

 

HASIL PENELITIAN

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model blended learning lebih efektif dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima dalam mempelajari materi laju reaksi, berupa: (1) Rata-rata skor angket motivasi siswa dengan penerapan blended learning adalah 143,53 lebih tinggi dari rata-rata skor angket motivasi dengan pembelajaran konvensional yaitu 135,12; (2) Rata-rata skor posttest siswa dengan blended learning adalah 68,71 lebih tinggi daripada rata-rata posttest siswa dengan pembelajaran konvensional yaitu 56,59. Secara lengkap hasil penelitian ini disajikan dalam Tabel 1dan 2 sebagai berikut:

 

 

Tabel 1 Perbandingan Rata-rata Skor Motivasi

 

Model Motivasi Awal Motivasi Akhir Selisih
Blended Learning 116.88 143,53 26,65
Konvensional 117 135,12 18,12

 

 

Dalam satuan persentase (dengan skor maksimal 180), persentase peningkatan skor motivasi pada penerapan blended learning sebesar 14,8% sedangkan persentase peningkatan skor motivasi pada penerapan model pembelajaran konvensional sebesar 10,1%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan blended learning lebih efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional pada peningkatan motivasi belajar siswa.

 

 

Tabel 2 Perbandingan Rata-rata Skor Pretest dan Posttest

 

Model Pretest Posttest Selisih
Blended Learning 23.29 68.71 45.41
Konvensional 23.41 56.59 33.18

 

 

Dalam satuan persentase (dengan skor maksimal 100), persentase peningkatan skor tes pada penerapan model blended learning sebesar 45,4% sedangkan persentase peningkatan skor tes pada penerapan model pembelajaran konvensional sebesar 33,2%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan blended learning lebih efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional pada peningkatan hasil belajar siswa.

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Bahasan dalam bab ini berupa analisis mengenai temuan-temuan penelitian yang merupakan jawaban atas rumusan masalah penelitian. Hal -hal yang akan dibahas pada bagian ini adalah: 1) Peningkatan motivasi belajar dan, 2) Peningkatan hasil belajar.

 

 

Peningkatan Motivasi Belajar

 

Motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang dapat menggerakkan dirinya untuk mencapai tujuan tertentu dalam hal ini hasil belajar yang lebih baik. Aspek-aspek motivasi dalam penelitian ini berupa perhatian, relevansi, percaya diri dan kepuasan.

 

 

Aspek Perhatian

 

Perhatian siswa muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu, oleh karena

itu rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan atau stimulus. Strategi yang merangsang perhatian siswa antara lain: penggunaan metode penyampaian materi yang bervariasi, penggunaan media untuk melengkapi materi, pemberian contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, dan teknik pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif (Keller dalam Poulsen et al, 2008).

Beberapa temuan lain dalam penelitian ini sebagai penyebab ketertarikan siswa pada penerapan blended learning yang terungkap melalui kolom komentar pada angket dan diskusi online, antara lain:

  • Adanya sumber belajar yang beragam dan gambar/animasi lain yang disediakan melalui link sumber belajar.
  • Penyediaan media chatting sebagai ruang diskusi synchronous. Mereka merasa senang dengan adanya ruang diskusi, dimana mereka bisa kapan saja berdiskusi dengan temannya seperti pada media jejaring sosial lainnya.
  • Mereka bisa dengan mudah mengirim pertanyaan ke teman melalui fasilitas e-mail (diskusi asynchronous), jika mereka mengalami kesulitan.
  • Urutan penyajian informasi dalam website sangat mudah, sehingga mereka merasa dituntun seperti dalam kelas tatap muka.

Temuan ini menjadi indikasi bagi peningkatan presentase siswa yang menyatakan setuju/sangat setuju serta penurunan presentase siswa yang menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju terhadap penerapan blended learning pada aspek perhatian. Terhadap masih adanya siswa yang menyatakan ketidak setujuan mereka terhadap penerapan blended learning adalah ketiadaan fasilitas dalam hal ini laptop atau PC serta lambatnya akses jaringan internet. Berkaitan dengan lambatnya akses jaringan internet, siswa beralasan bahwa pemakaian website membuat mereka merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya dalam berdiskusi ketika ada di rumah. Hal ini bisa dipahami karena siswa yang beralasan seperti ini, umumnya bertempat tinggal di pemukiman yang tidak memiliki fasilitas warung internet (warnet), sehingga mereka hanya bisa memanfaatkan waktu untuk berdiskusi ketika ada di sekolah.

Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian yang dilakukan Means et al (2008). Mereka menemukan bahwa penerapan model blended learning dapat meningkatkan perhatian siswa dalam organisasi topik pembelajaran pada 35 sekolah dasar di Amerika. Hal senada juga ditemukan oleh Waddoups & Howell (2002) bahwa pembelajaran dengan model blended learning telah meningkatkan tingkat perhatian peserta didik pada desain instruksional pembelajaran.

 

 

Aspek Relevansi

 

Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan terpelihara jika siswa menganggap bahwa apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat (Keller dalam Poulsen et al, 2008). Strategi untuk menunjukkan relevansi materi pelajaran antara lain: menjelaskan tujuan instruksional, menjelaskan manfaat pengetahuan yang dipelajari dan penerapannya, dan memberikan contoh yang berkaitan dengan kondisi siswa. Temuan lain dalam penelitian ini sebagai penyebab meningkatnya motivasi pada aspek relevansi yang terungkap melalui kolom komentar pada angket, yaitu:

  • Siswa merasa penggunaan website sebagai media pembelajaran telah memberi pengalaman baru bagi mereka.
  • Adanya animasi membantu mereka dalam memahami materi
  • Fasilitas e-mail, menjadi media yang dimanfaatkan oleh siswa yang takut bertanya untuk berdiskusi dengan siswa lain.

Hal ini menjadi indikasi bagi peningkatan presentase siswa yang menyatakan setuju/sangat setuju serta penurunan presentase siswa yang menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju terhadap penerapan blended learning pada aspek relevansi. Temuan yang sama juga didapatkan oleh Temuan ini memperkuat apa yang ditemukan oleh Schmidt (2007) dan Martyn (2003) bahwa adanya lingkungan belajar yang fleksibel dalam metode blended learning dapat memberi pilihan bagi siswa untuk mengatur dirinya, sehingga meningkatkan kontrol belajar mereka, juga meningkatkan motivasi dan kesuksesan dalam belajar mereka.

 

 

Aspek Percaya Diri

 

Kepercayaan diri berkaitan dengan merasa diri kompeten dan mampu

untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Strategi yang dapat

digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam belajar antara lain: meningkatkan harapan siswa untuk berhasil, menyusun penyampaian materi dalam bagan-bagan yang lebih kecil, menyampaikan tujuan pembelajaran, membantu siswa mengetahui hal-hal yang sudah dikuasainya dan hal-hal yang masih perlu diperhatikan, dan memberi umpan balik yang konstruktif selama pembelajaran.

Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan fitur latihan soal/kuis dengan feedback secara langsung membuat siswa lebih percaya diri dan semakin semangat untuk belajar (siswa yang mendapat skor tinggi pada kuis) dan melahirkan pengaturan diri bagi siswa yang mendapat skor rendah. Hal yang sama juga diperoleh Lim (2004) dalam Bannier (2009), bahwa terjadi peningkatan motivasi melalui pembelajaran online yang berupa relevansi, pengaturan diri, feedback dan perhatian terhadap pembelajaran.

 

 

Aspek Kepuasan

 

Kepuasan terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan (Robins, 2005). Strategi untuk meningkatkan kepuasan antara lain: memberikan pujian verbal dan umpan balik yang informatif, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan ketrampilan atau pengetahuan yang baru diperoleh, meminta siswa yang telah menguasai pengetahuan untuk membantu siswa yang masih belum menguasai dan membandingkan prestasi siswa dengan prestasinya dimasa lalu dengan standar tertentu. Kepuasan siswa dalam penelitian ini, umumnya diungkapkan oleh siswa karena penggunaan kuis dengan feedback langsung. Mereka merasa puas dengan adanya skor yang langsung dilihat.

Hal yang sama juga ditemukan oleh Martyn (2003), Zitting & Krause (2005), mereka menemukan bahwa terjadi pengaturan diri melalui feedback langsung dan aktivitas siswa meningkat dengan penggunaan latihan mingguan berbasis tugas, sementara Riffell & Sibley (2003), juga menemukan bahwa penerapan model blended learning dapat meningkatkan motivasi khususnya pada self-efficacy dan pengaturan diri serta ketrampilan pengaturan waktu melalui pekerjaan rumah (PR). Hal yang senada juga ditemukan oleh Williams, Bland & Christie (2007) bahwa penerapan model blended learning juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kepuasan diri siswa sebagai aspek motivasi dan Piskurich (2004) juga mendapatkan hasil bahwa penerapan model blended learning memberikan kepuasan dengan pengalaman yang lebih tinggi dibandingkan pengajaran tatap muka.

 

 

 

Peningkatan Hasil Belajar

 

            Beberapa temuan dalam penelitian ini yang mendukung adanya peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi pada penerapan blended learning dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional, antara lain:

 


 

Interaksi pada Sesi Online

 

            Penggunaan media diskusi online synchronous (chatting), telah meningkatkan keaktifan siswa dalam berinteraksi pada proses pembelajaran. Hal ini diketahui dari ungkapan siswa pada saat diskusi, antara lain:

enak ya chatting begini, semuanya jadi mau ngomong, tidak seperti di kelas”.

Penggunaan media chatting dalam penelitian ini juga memberikan fleksibilitas bagi siswa untuk belajar kapan dan dimanapun mereka mau. Hal ini menimbulkan pengaturan diri sehingga mendorong prakarsa diri untuk belajar secara mandiri. Kemandirian dalam belajar terungkap pada diskusi online, dimana siswa menyatakan bahwa mereka telah melakukan diskusi sebelum pembelajaran online dilakukan. Adanya kemandirian dalam belajar yang ditemukan dalam penelitian ini sama seperti yang ditemukan oleh Ariyanto (2009) bahwa penerapan blended learning dapat meningkatkan peran dan kemandirian peserta didik dalam proses pembelajaran, selain itu pembelajaran akan lebih interaktif karena materi ajar yang disampaikan dapat ditampilkan dalam bentuk text, audio maupun video (multimedia).

Pada penggunaan fitur e-mail (diskusi asynchronous) beberapa responden merasa terbantu dengan adanya fitur ini, karena dapat dipakai untuk berdiskusi dengan siswa lain dalam mendiskusikan soal. Hal ini diungkapkan oleh beberapa siswa yang takut bertanya pada media synchronous.

Berkaitan dengan interaksi siswa terhadap topik pembelajaran, dalam report disetiap topik yang diberikan untuk pembelajaran online, menunjukkan bahwa rata-rata akses tiap topik lebih dari 50 kali dengan persentase akses tertinggi disetiap topik terdapat pada latihan soal dan sumber belajar lain.

Peningkatan interaksi dengan penerapan model blended learning dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dziuban, Moskal & Hartman (2004), bahwa pembelajaran dengan model blended learning telah meningkatkan interaksi sebagai indikator kepuasan dalam kesuksesan model blended learning. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Wu & Hiltz (2004), juga menemukan telah terjadi peningkatan kepuasan dan hasil belajar siswa dengan penggunaan media asynchronous terhadap 116 siswa.

 

 

Bertindak berdasarkan umpan balik

 

Pada penggunaan media online berbasis web dengan program Moodle,

dapat disajikan ruang penilaian yang diberikan dalam bentuk latihan soal atau kuis. Dalam penelitian ini kuis yang diberikan diatur sedemikain rupa sehingga feedback berupa skor yang diperoleh dapat langsung diketahui termasuk jawaban soal yang salah dan benar. Feedback yang secara langsung ini dapat membantu siswa untuk mengetahui kesulitan materi yang mereka hadapi sebelum mereka memulai proses diskusi. Beberapa responden menyatakan bahwa adanya skor yang langsung disajikan setelah pengerjaan soal telah memacu mereka untuk belajar lebih giat lagi. Hal yang sama juga ditemukan oleh Martyn (2003), Zitting & Krause (2005) bahwa aktivitas siswa meningkat dengan penggunaan latihan mingguan berbasis tugas. Hal yang sama juga ditemukan oleh Hopper (2003) dan Strambi & Bouvet (2003), bahwa fitur kursus pembelajaran online yang paling berpengaruh pada hasil pembelajaran adalah feedback yang terjadwal. Hopper juga menambahkan bahwa penggunaan media online dalam blended learning berperan besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Temuan lain yang juga mendukung terjadinya hasil belajar yang lebih tinggi pada penerapan blended learning dibandingkan hasil belajar pada penerapan model pembelajaran konvensional terlihat pada laporan praktikum. Penjelasan siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan penjelasan siswa kelas kontrol tentang pengaruh luas permukaan dan suhu terhadap laju reaksi. Pada kelas eksperimen, siswa mampu menggabungkan pengamatan makroskopis melalui praktikum dengan pemahaman secara teoritis, seperti yang disajikan pada Tabel 3 berikut:

 

Tabel 3 Perbandingan Penjelasan Siswa

 

Faktor Laju Reaksi Penjelasan Siswa Kelas Eksperimen Penjelasan Siswa Kelas Kontrol
Luas permukaan sentuh Bila luas permukaan untuk bersentuhan bertambah luas, maka kemungkinan untuk terjadinya tumbukan dengan spesies pereaksi lain semakin besar. Akibat lebih lanjut, persentase tumbukan dengan posisi yang tepat makin besar dan menghasilkan energi yang lebih besar dari energi aktivasi reaksinya Semakin banyak luas permukaan yang disentuh oleh zat pelarut, maka semakin singkat waktu yang diperlukan.
Konsentrasi Bila konsentrasi suatu zat makin tinggi, maka jumlah partikelnya makin banyak akibatnya jumlah tumbukan persatuan waktu semakin banyak, memperbanyak persentase tumbukan yang posisinya tepat dan menghasilkan energi yang lebih besar dari energi aktivasi reaksinya Semakin besar tingkat konsentrasi zat pelarut akan semakin singkat waktu yang diperlukan untuk menghabiskan zat terlarut

 

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Motivasi belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Rata-rata skor angket motivasi siswa dengan penerapan model blended learning adalah 143,53 (persentase peningkatan sebesar 14,8%), lebih tinggi dari rata-rata skor angket motivasi dengan penerapan model pembelajaran konvensional yaitu 135,12 (persentase peningkatan 10,1%), dengan demikian penerapan model blended learning lebih efektif dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima dalam mempelajari materi laju reaksi.
  2. Hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Rata-rata hasil posttest siswa dengan model blended learning adalah 68,71 (persentase peningkatan sebesar 45,4%), lebih tinggi daripada rata-rata posttest siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional yaitu 56,59 (persentase peningkatan sebesar 33,2%), dengan demikian penerapan model blended learning lebih efektif dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa XI IPA SMAN 1 Kota Bima dalam mempelajari materi laju reaksi

 

 

Saran

 

Beberapa saran yang dapat diberikan untuk perbaikan dan penelitian lebih lanjut adalah:

  1. Dalam merancang model blended learning, hendaknya diperhatikan keanekaragaman sumber belajar seperti link materi, animasi, gambar dll guna memfasilitasi keberagaman gaya belajar siswa.
  2. Dalam penelitian ini, terlihat bahwa fitur dalam sesi online yang paling banyak dipakai adalah fitur sumber belajar dan latihan soal dengan feedback, oleh sebab itu hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi perancangan media online yang digunakan dalam blended learning.
  3. Tingginya interaksi siswa dalam berdiskusi pada media online dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan prosentase online pada pembelajaran materi laju reaksi atau bahkan untuk menggantikan pertemuan tatap muka dengan pembelajaran online.
  4. Sumber daya lain yang perlu diperhatikan adalah kecepatan akses jaringan internet di sekitar lingkungan siswa. Untuk user sebanyak 34 orang, kapasitas server disarankan lebih dari 500 MB dengan bandwidth minimal 50 GB untuk menghindari server down. Disamping itu, user harus memiliki koneksi internet dengan kecepatan minimal 40 Kbps setara 5 KBps, agar tidak mengganggu proses diskusi online.

 


 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ariyanto, R. 2009. Penerapan Blended Learning dalam Proses Pembelajaran (online) (http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6208167178.pdf) diakses 20 Juli 2011.

Bannier, B. J. 2009. Motivating and Assisting Adult,Online Chemistry Students: A Review of Literature. LLC:Springer Science and Bussines Media.

Beebe, R, Vonderwell, S & Boboc, M. 2010. Emerging Patterns in Transferring Assessment Practices from F2f to Online Environments. Electronic Journal of e-Learning (online) Vol 8 (1) 2010. (http://www.ejel.org/issue/download. html? idIssue=18) diakses 5 Mei 2011.

Cox, G. Carr, T & Hall, M. 2004. Evaluating the Use of Synchronous Communication in Two Blended Courses. Journal of Computer Assisted Learning, 20, 183-193.

Dasna, I .W. & Sutrisno (ed). 2005. Model-model Pembelajaran Konstruktif dalam Pengajaran Sains/Kimia. Malang: FMIPA UM.

Dziuban, C. D, Hartman, J. L, & Moskal, P. D. 2004. Blended Learning. ECAR Research Buletin USA: Educause. (online). No 7 Vol. 2004. (www.net. educause.edu/ir/library/pdf/ ERB0407.pdf), diakses 28 Agustus 2011.

Farida, I. 2010. The Importance of Development of Representational Competence in Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia. (online) (http://faridach.wordpress.com/2010/10/13/the-importance-of-development-of-representational-competence-in-chemical-problem-solving-using-interactive-multimedia/), diakses 27 September 2011

Febrianti, D. N. 2010. Identifikasi Kesulitan Belajar dan Pemahaman Konsep Siswa dalam Materi Laju Reaksi Kelas XI-IPA Semester 1 SMA Negeri 6 Malang. Skripsi Tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM.

Feryandi, D. 2004. Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dengan Menerapkan Program Macromedia Flash pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris SDN Sumbersari 1 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS UM.

Herron, J. D. 1996. The Chemistry Classroom. Formulas for Successful Teaching. Washington, DC: American Chemical Society.

Harriman, G. 2004. What is Blended Learning? E-Learning Resources. (online) (http://www.grayharriman.com/blended_learning.htm), diakses tanggal 20 Agustus 2011.

Hopper, K. 2003. Reasons to Go Hybrid. Distance Education Report, (online) Vol. 7(24).7, alam Karen Vignare Michigan State University (http://www/irrodl.org/content/v2.2/wadoups.html) diakses 20 Februari 2012.

Iriany, Liliasari & Setyabudi, A. 2009. Model Pembelajaran Inquiry Laboratorium Berbasis Teknologi Informasi pada Konsep Laju Reaksi Untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMU (online) (http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI. PENDIDIKAN_IPA /194909271978032-LILIASARI/iriany_2009.pdf) diakses 27 Maret 2012.

Little John, A. & Pegler, C. 2007. Preparing for e-Blended Learning. (e-Book), USA: Routledge.

Martyn, M. 2003. The Hybrid Online Model: Good Practice. Educause Quarterly Journal. (online) No. 1 .2003 (18 – 23) (www. http://net.educause.edu/ir/ library/pdf/EQM0313.pdf ), diakses 10 Juni 2011.

Means, M. Toyama, Y. Murphy, R. Bakia, M & Jones, K. 2008. Evaluation of Evidence-Based Practices in Online Learning: A Meta-Analysis and Review of Online Learning Studies. (online) (http://www2.ed.gov/rschstat/eval/ tech/evidence-based-practices/ finalreport. Pdf), diakses 12 Februari 2012.

Mukhan, S. 2010. Angket Motivasi Siswa terhadap Pelajaran. (online) (http://www.ziddu.com/download/9437020/AngketPengukurMinatdanMotivasiBelajarModelACRS.pdf.html). diakses 25 Mei 2011.

Patron, H & Lopez, S. 2011. Student Effort, Consistency, and Online Performance The Journal of Educators Online, (online) Volume 8, Number 2, July 2011 (http://www.doaj.org/doaj?func=findJournals&uiLanguage=en&hybrid=&query=blended+learning) diakses 28 Agustus 2011.

Piskurich, R. 2004. Web-Assisted Courses for Business Education: An Examination Of Two Sections Of Principals Of Marketing. Journal of Marketing Education, 26(2), 161-173.

Poulsen, A. Lam, K. Cisneros, S & Trust, T. 2008. ARCS Model of Motivational Design. (online) (http://www.torreytrust.com/images/ITH_Trust.pdf), diakses 20 Februari 2012.

Riffell, S.K., & Sibley, D.F. 2003. Student perceptions of a hybrid learning format: Can online experiences replace traditional lectures? Journal of College Science Teaching, 32, 394-399.

Robins, S. 2005.Organizational Behavior (online) (http://som.csudh.edu/depts/ management/bchrispin/mgt312/pp%20Slides/OB11_03in.ppt) diakses 5Juli 2011.

Sanger, M.J. & Greenbowe, T.J. 2000. Addressing Student Misconceptions Concerning Electron Flow in Electrolyte Solutions with Instruction Including Computer Animations and Conceptual Change Strategies. International Journal of Science Education. (online) 22, 521-537 (http://www.tandfonline .com/doi/pdf/10.1080/095006900289769) diakses 26 Mei 2011.

Sari, P.L & Purtadi, S. 2010. Pembelajaran Tematik pada Mata Kuliah Kimia Dasar sebagai Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Cakrawala Pendidikan (online). No. 3 Tahun XXIX November 2010. (http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin /jurnal /29310392402_0216-1370.pdf) diakses 20 Agustus 2011.

Schmidt, J. 2007. Blogging practices: An analytical framework. Journal of Computer-Mediated Communication. (online) 12(4), article 13. (http://jcmc.indiana.edu /vol12/issue4/schmidt.html) diakses 20 Mei 2011.

Shih, R. C. 2010. Blended Learning Using Video-Based Blogs: Public Speaking For English As A Second Language Students. Australasian Journal of Educational Technology. (Online) 26 (6) 883-897.2010. (http://www.ascilite. org.au/ajet/ajet26/shih.html), diakses 20 Juli 2011.

Strambi, A & Bouvet, E. 2003. Flexibility and Interaction At A Distance: A Mixed-Mode Environment For Language Learning Language Learning & Technology (online) Vol. 7, No. 3, September 2003, pp. 81-102 (http://llt.msu.edu/vol7num3/strambi/default.html) diakses 27 Mei 2011.

Suyanti, R. D. 2010 Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Waddoups, G.L & Howell, S.L. 2002. Bringing online learning to campus: The hybridization of teaching and learning at Brigham Young University. International Review of Research in Open and Distance Learning, 2(2), (online) dalam Karen Vignare Michigan State University (http://www/irrodl.org/content/v2.2/wadoups.html), diakses 20 Mei2012.

Williams, N. A, Bland, W. & Christie, G. 2007. Improving Student Achievement and Satisfaction by Adopting a Blended Learning Approach to Inorganic Chemistry. Journal of Chemistry Education Research and Practice (online) Vol. 9. 2008. (43-50) (http://pubs.rsc.org/en/content/articlelanding/2008/rp /b801290n), diakses 27 Agustus 2011.

Wong, N.G. 2007. Kajian Blended Learning. (Online). (http://eprints.lib.ui.ac.id /4313 /7/126293-T-647-Kajian%20blended-Abstrak.pdf), diakses 26 Agustus 2011.

Wu, D. & Hiltz, S. R. 2004. Predicting Learning From Asynchronous Online Discussions. Journal of Asynchronous Learning Networks.(online) 8 (2), 139-151. (http://www.sloan-c.org/publications/jaln/v8n2/v8n2_wu.asp.) diakses 27 Juni 2011.

Zitting, E & Krause, A.O.I. 2005. Blended Learning In Chemical Processes Education. (online) (http://www.igi-global.com/ viewtitlesample.aspx?id= 52543), diakses 29 September 2011.

Siswa SMAN 1 Kota Bima Fatin Yuniarti kelas  XII IPA 7, lahir di Bima, 26 Juni 1997 Jl.Ir. sutami No. 17 RT. 1 RW 1 Kel. Rabadompu Barat, Kec. Raba, Kota Bima, NTB. Fatin lahir dari pasangan Muhammad Natsir dan Nuraini, Hobbi  Menggambar, main gitar, kadang-kadang main biola. Cita-cita  Lulus Teknik Geologi UGM. Berhasil menyingkirkan teman-temannya se-provinsi NTB  dan Lolos sebagai wakil untuk mengikuti OSN Fisika Tingkat nasional yang akan di selenggarakan pada Bulan September di Mataram NTB

 

BERIKUT PERNYATAAN DARI FATIN YUNIARTI !

Olimpiade Sains Nasional atau yang biasa di sebut OSN, siapapun pasti tau bagaimana tingkat kesulitan soalnya yang sangat luar biasa membuat kepala pusing. Saya sudah mengikuti pembinaan Olimpiade Fisika sejak kelas VII di MTsN 1 Kota Bima dan melanjutkannya di SMA 1 Kota Bima hingga kelas XII sekarang. Menurut saya pribadi fisika itu sulit tetapi karna sedikit yang meminatinya, saya pun memutuskan untuk memilihnya dan pada akhirnya saya menyadari fisika itu menyenangkan meskipun sulit.

Sejak MTs saya sangat mengagumi kakak kelas yang pintar fisika, hal itulah yang memotivasi saya minimal bisa mengikuti jejak mereka dan berusaha untuk mencetak prestasi lebih baik dari mereka. Ketika masuk SMA 1 dan mengikuti pembinaan bersama pak Hasto Pancoro banyak hal yang saya beliau ajarkan, tidak hanya sekedar teori tetapi yang terpenting dorongan psikologis yang memacu saya untuk belajar, tidak minder, tidak sombong, dan yang terpenting yang beliau ajarkan yaitu tidak meremehkan lawan.

Pada tahun pertama saya di SMA satu yaitu kelas X, saya bersama 2 orang teman menjadi perwakilan sekolah untuk tingkat Kota Bima, saya merasa masih banyak kekurangan materi tetapi Alhamdulillah bisa memperoleh juara 2 Tk. Kota Bima. Kemudian juara 1-3 Kota Bima melanjutkan ke tingkat provinsi di Kota Mataram, NTB.

Persiapan demi persiapan saya lakukan, setiap hari membaca dan latihan soal dan sebagainya. Ketika mendekati hari keberangkatan ke provinsi saya benar-benar merasa sial karna dekat hari keberangkatan malah sakit gigi yang sakitnya kalian pasti tau sendiri lah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ke provinsi hanya karna sakit gigi jadi dengan ikhlas berangkat bersama obat-obatan. Ketika hari lomba pagi-pagi saya bersiap untuk minum obat sebelum ke ruangan, sungguh cobaan tiada henti saya tidak sadar obatnya habis dan dengan sangat terpaksa mengerjakan soal sebanyak 7 nomor essai yang sulitnya minta ampun selama 3,5 jam tanpa istirahat dengan sakit gigi yang nyut-nyutnya tidak ada kompromi. Di sisa 30 menit terakhir tes saya tertidur di ruangan dan sedikit malu karna ketika bangun di tertawai oleh pengawas.

Ketika kembali ke Kota Bima saya sadar saya tidak mungkin bisa lolos Nasional dengan keadaan seperti kemarin, sehingga saya tidak berharap sama sekali untuk bisa lolos saat itu dan berjanji dengan diri sendiri untuk berusaha lebih baik dan menembus nasional tahun selanjutnya.

Sejak hari itu saya terus rutin pembinaan dan berusaha lebih serius karna saya hanya mempunyai 1 kesempatan lagi untuk mengikuti OSN. Semakin mendekati bulan April semakin padat jadwal belajar, setiap malam saya terus latihan soal sampai benar-benar memenuhi teori yang sudah saya targetkan. Tak jarang karna terlalu asyik dengan soal saya tidak sadar sudah jam 12 malam. Ketika hari seleksi tingkat kota berlangsung saya merasa sudah cukup lebih baik dari tahun sebelumnya karna banyak teori yang sudah cukup saya kuasai dan Alhamdulillah dengan usaha dan do’a baik dari diri sendiri, orang tua, guru dll saya bisa memperoleh yang lebih baik dari tahun sebelumnya peringkat 1 tingkat Kota Bima.

Setelah lolos tingkat Kota saya sadar harus lebih lebih dan lebih belajar untuk bisa memenuhi passing grade di tingkat provinsi agar bisa lolos nasional. Tetapi, lagi dan lagi cobaan datang. Mendekati hari keberangkatan saya jatuh sakit, demam, batuk, pilek, dan radang tenggorokan. Mungkin karna terlalu lelah sehingga saya sedikit mengurangi intensitas belajar karna khawatir semakin mendekati hari keberangkatan akan semakin parah. Hingga hari keberangkatanpun kesehatan sudah cukup membaik meskipun batuk pilek tak kunjung sembuh. Ketika hari lomba tiba saya dihadapkan dengan 7 soal essai seperti tahun lalu, soalnya sulit tetapi masih lebih baik dibanding tahun kemarin karna sudah ada peningkatan teori yang saya kuasai. Seusai lomba saya benar-benar berharap bisa tembus nasional sebagai duta NTB yang merupakan tuan rumah OSN 2014, hanya berdo’a yang bisa saya lakukan sampai menunggu pengumuman keluar.

Selama 2 minggu saya merasa sangat d gantung oleh pengumuman OSN tk. provinsi karna tidak ada kabar sama sekali, hingga pada tanggal 2 july 2014 saya melihat di internet telah d upload surat resmi pengumuman peserta OSP yang lolos nasional. Benar-benar bahagia, sujud syukur yang bisa saya lakukan ketika membaca nama saya tertera sebagai salah satu dari 96 peserta OSN 2014 bidang fisika. NTB memiliki 5 perwakilan untuk tk. nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 1-7 july 2014 di Lombok Raya hotel dan Garden Hotel, kota Mataram. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar bisa memperoleh hasil yang baik di nasional nanti.

Dari segala hal yang saya alami, pada intinya jika kita berusaha, tidak pernah menyerah dan konsisten terhadap apa yang kita tekuni kita pasti bisa memperoleh apa yang kita inginkan sesuai dengan seberapa banyak kita berusaha dan berdo’a kepada Allah SWT. Serta meminta restu orang tua dan guru karna kesuksesan tidak akan pernah tercapai jika tidak ada restu orang tua dan guru.

Siswa SMAN 1 Kota Bima Atas n?ma Ervivan Qomariah Jauhari Kelas XI MIA 2, Lahir di Kota Bima Bahasa Dari Pasangan Mujadid Dan St. Aisyah. Putri kelahiran Dodu 17 Tahun Yang Lalu Akan bergabung Artikel Baru rekannya bahasa Dari seluruh provinsi melaksanakan Tugas iB Upacara HUT-RI ke-69 di Jakarta

Siswa SMAN 1 Kota Bima Ervina Qomariah Jauhari kelas XI MIA 2Jadi Duta PASKIBRAKA Nasional pada Upacara HUT RI ke-69 di Jakarta

Pada ajang lomba debat bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di tingkat provinsi, SMAN 1 Kota Bima berhasil keluar sebagi juara II

Slideshow